Jagalah kebiasaan Anda agar tetap positif karena ia akan menjadi nilai hidup Anda. Jagalah nilai hidup Anda agar tetap positif karena ia akan menjadi tujuan hidup Anda

Jumat, 18 Februari 2011

Selasa, 15 Februari 2011

gerak lurus

Benda dikatakan bergerak jika berubah terhadap titik acuan. Jika lintasannya lurus maka dikatakan benda tersebut melakukan gerak lurus. Gerak tersebut bisa beraturan (GLB) atau Berubah Beraturan (GLBB)

Guru ! Profesi atau status

Lembar demi lembar formulir telah terisi, tiba pada sebuah isian
Profesi : ............................
Guru atau apa ya. Aku seorang guru tetapi Guru bukan profesiku ! Benrkah ?

Guru itu pula yang disandang oleh Yesus, Guru itu bukan profesi tetapi status yang melekat pada diriku seperti halnya Yesus telah mendapatkan status sebagai seorang Guru.

Jadi Guru BUKAN PROFESI ...

Asal kata Narsis

DIJAMAN Yunani kuno hiduplah seorang pemuda tampan dengan alis tebal menghiasi mata biru indah seindah blue saphire yang telah diasah oleh pengrajin intan martapura. Semua orang mengagumi keindahan mata biru si pemuda. Namun banyak orang yang tidak suka dengan sikapnya yang aneh. Pemuda ini mungkin lebih tepat jika dikatakan cantik dengan kelembutan dan pembawaan diri yang menarik. Narsisus nama pemuda ini.
Setiap hari Narsisus mengagumi ketampanan dan kecantikan dirinya. Mata biru yang dihiasi bulu mata lentik tiada duanya diseantero Yunani selalu menjadikan para wanita iri ingin memilikinya.
Sebuah danau jernih bening yang terletak dikaki bukit desa tempat tinggal Narsisus telah menjadi bagian hidup Narsisus karena setiap hari anak muda ini bercermin di atas danau jernih. Karena kejernihan dan ketenangan air danau menjadikan Narsisus selalu ketagihan untuk bercermin mengagumi ketampanan wajahnya. Dari pagi menjelang siang, dari siang menjelang matahari terbenam Narsisus akan berlama-lama menikmati wajah ayunya dari pinggir danau. Ia berdiri di pinggir danau dengan menjulurkan kepalanya agar kelihatan ketampanan wajahnya untuk ia kagumi.
Suatu hari yang cerah, air danau tampak seperti cermin sempurna yang mampu memantulkan sinar sesuai dengan hukum snellius. Betapa senang dan bahagianya Narsisus pada hari ini. Mata birunya semakin indah, hidung mbangir terlihat semakin jelas menambah ketampanannya.
“Belum pernah aku setampan ini” gumamnya. Kekilafan dan ketidakmampuannya menjaga keseimbangan dimana titik berat tubuhnya berpindah lebih kedepan maka dengan secepat kilat Narsisus terjerembab jatuh kedanau pujaannya. Betapa malang Narsisus, hidupnya tragis tenggelam di dasar danau karena terlalu Narsis dengan ketampanannya.
Setelah kejadian ini para dewa bertanya pada danau
“Mengapa pada saat Narsisus bercermin mengagumi dirinya tenggelam dan meninggal”
“Narsisus si mata biru yang indah itu dewa”
“Ya, benar …” jawab Dewa
“Aku merasa sedih karena saat ini aku tidak bisa melihat indahnya diriku dimata anak muda itu”
 “Huh … sama-sama Narsis” Dengan perasaan jengkel dewa bergumam dan pergi meninggalkan danau.
Semua orang ternyata mempunyai sifat narsis dengan memandang dirinya yang lebih berharga, lebih baik, lebih punya hati dan tidak seorangpun yang boleh menyakitinya, lebih setia, lebih punya komitmen walau kenyataannya menikam dari belakang dengan penggalangan massa, lebih kaya, lebih benar, lebih wisdom (bijaksana) hingga tidak mau lagi berkomunikasi dengan bawahannya, lebih berkuasa padahal 4 tahun yang lalu sama-sama berjuang membangun bisnis dari nol kecil hingga mempunyai 4 cabang, dan lebih-lebih yang lain.
Hilangkan Narsis dari diri Anda jika anda ingin membangun sebuah bisnis. Komitmen dan ketulusan hati untuk berjuang bersama-sama seluruh pelaku usaha yang anda pimpin sangatlah penting. Dengan hilangnya komitmen misal pernyataan mundur salah satu pendiri perusahaan akan berdampak sangat negatif terhadap kelangsungan usaha. Dampak yang paling ditakuti, usaha tidak akan berkembang bahkan akan mengalami kehancuran.
Komitmen berarti mengambil tindakan, baik suka duka tetap dijalani, baik sebentar maupun lama tetap dijalani, baik mahal atau murah ongkosnya, baik mengecewakan maupun membanggakan tetap dijalani sampai berhasil. Inilah yang dikemukakan pelatih sukses no.1 TDW.
Praktekkan buku ini, Anda akan merasakan ada kemudahan dalam membangun sebuah Bisnis Gampang yang Bergelimang Uang dengan tuntunan praktis langkah-demi langkah membangun self publishing. Sebuah bisnis selalu dianalisa untung ruginya, demikian pula bisnis penerbitan mandiri yang sedang dan akan anda bangun ini. Kemudahan yang anda peroleh karena sudah disediakan program analisa keuangan sampai dengan proyeksi laba ruginya. Dengan modal sebesar X rupiah maka anda harus mengatur jumlah buku yang dicetak tiap bulannya agar tidak terjadi defisit di cashflow anda. Pengaturan keuangan dan jadwal terbit bisa anda jumpai di sheet simulasi.
Mungkin Anda terlalu sibuk untuk menjalankan bisnis ini, tidak ada salahnya anda mencoba investasi yang kami tawarkan dengan perhitungan rasional. Baca terus buku ini karena sebentar lagi Anda akan mempunyai bisnis penerbitan mandiri.

Buku oh Buku

Tak dapat dipungkiri, buku merupakan sumber belajaƗ yang utama dan menjadi sarana penting untuk meningkatkan kualitas pembelajaran. Buku sekolah, khususnya buku pelajaran, merupakan media pembelajaran yang memiliki peran dominan di kelas dan menjadi bagian sentral dalam sistem pendidikan Karena buku merupakan alat yang penting untuk menyampaikan materi kurikulum, maka buku sekolah menududuki peranan sentral pada semua jenjang pendidikan. Hasil penelitian Supriyadi (1997) yang dilakukan terhadap 867 SD dan MI di Indonesia mencatat bahwa tingkat kepemilikan siswa akan buku pelajaran di SD berkorelasi positif secara signifikan dengan hasil belajarnya. Hal ini berarti bahwa semakin tinggi akses siswa terhadap buku pelajaran, maka semakin tinggi pula hasil belajarnya. Oleh karena itu, setiap upaya untuk meningkatkan akses terhadap buku akan meningkatkan hasil belajar siswa. Hasil studi tersebut sebetulnya konsisten dengan sinyalemen World Bank (1989) yang menegaskan bahwa tingkat kepemilikan siswa akan buku dan fasilitas sekolah lainnya berkorelasi positif dengan prestasi belajarnya.
Karena alasan tersebut di atas, maka pemerintah, sebagaimana juga banyak negara lain di dunia, melakukan investasi besar-besaran dan terkadang intervensi- untuk penyediaan buku sekolah. Hingga tahun 2000 tidak kurang dari US$ 355,2 juta (lebih dari 3 triliun rupiah) telah dialokasikan untuk pengadaan buku SD dan SLTP untuk mencapai rasio 1 buku : 1 siswa.

PERMASALAHAN UMUM PERBUKUAN
Buku-buku sekolah di Indonesia yang meliputi buku pelajaran, buku bacaan, dan buku sumber menguasai sekitar 65 % pangsa pasar buku di Indonesia. Populasi yang dilayaninya mencapai lebih dari 44,8 juta siwa dan lebih dari 2,6 juta guru seluruh jenjang Negeri dan Swasta (Data Depdiknas, 2004). Setiap tahunnya ratusan milyar rupiah dana dialokasikan oleh pemerintah untuk pengadaan buku. Tentunya, dana yang dibelanjakan oleh orang tua siswa untuk membeli buku-buku pelajaran tidak kalah besarnya dengan anggaran pemerintah. Dengan potensi pasar perbukuan yang sedemikian besar secara keseluruhan tentunya juga menyimpan potensi permasalahan yang tidak sederhana.
Setidaknya, permasalahanan tersebut dapat dikategorikan pada beberapa permasalahan berikut:
  1. Kualitas Buku Sekolah
Buku-buku sekolah di Indonesia sangat beragam jenis dan kualitasnya. Permasalahan kualitas buku tentu saja bukan permasalahan yang sederhana, karena berkaitan dengan kualitas penulisan buku, sistem penilaian buku, dan berbagai regulasi lainnya. Kualitas buku berkaitan dengan kualitas fisik yang secara langsung dipengaruhi oleh faktor produksi, dan kualitas isi buku yang juga dipengaruhi oleh banyak faktor. Berkaitan dengan kualitas buku sekolah yang sangat bervariasi tentunya menjadi persoalan tersendiri. Berkaitan dengan pengadaan, persoalan yang dihadapi adalah bagaimana menyediakan buku-buku sekolah yang berkualitas dalam jumlah yang besar untuk semua atau sebagian besar siswa, sehingga penguasaan siswa terhadap materi pelajaran, yang tercermin pada prestasi belajarnya, dapat meningkat. Meskipun telah dilakukan berbagai upaya untuk meningkatkan kualitas buku sekolah namun masih terdapat beberapa beberapa kelemahan yang terkait dengan kualitas isi buku sekolah.
Sinyalemen Utomo Dananjaya (Nopember 2008) yang melaporkan hasil penelitian tentang kualitas buku sekolah menunjukkan bahwa masih terdapat beberapa kelemahan yang menyangkut aspek pedagogis dari materi isi buku sekolah, dan bahkan ditemukan pula adanya konten materi yang dapat dikatakan tertinggal dari perkembangan ilmu pengetahuan terkini. Kualitas isi buku juga secara tidak langsung berkaitan dengan remunerasi terhadap penulis, sistem rabat yang menjadi acuan penerbit, regulasi harga bahan baku kertas, dan lain sebagainya.
  1. Distribusi buku sekolah memiliki rantai distribusi yang cukup panjang karena melibatkan penerbit, distributor buku, toko buku, guru dan sekolah, serta pemerintah pusat dan daerah. Seringkali terjadi konflik antara berbagai kalangan tersebut. Selama ini buku-buku sekolah diperoleh siswa melalui berbagai cara. Sekolah dan pemerintah turut terlibat mempengaruhi distribusi buku mulai dari sistem penilaian buku, pemberian rekomendasi buku layak pakai, dan penjualan buku di sekolah baik melalui sekolah, guru, maupun koperasi sekolah. Penerbit sendiri, di samping memiliki jaringan sampai ke sekolah juga memiliki jaringan distribusi dengan kalangan distributor dan toko buku.
Perkembangan Kebijakan Perbukuan di Indonesia. Penuntasan wajib belajar mutlak membutuhkan ketersediaan buku pelajaran yang berkualitas. Kenyataannya, pemerintah sendiri tak mampu melaksanakan tanggungjawabnya. Setidaknya hal tersebut bisa terlihat dari kebijakan perbukuan termasuk dukungan pembiayaannya. Selama ini kebijakan buku pelajaran sangat dipengaruhi oleh dimensi politik dan ekonomi. Pada era orde baru, pemenuhan buku pelajaran ditanggung pemerintah dan berlaku turun temurun, namun hal itu dilakukan karena adanya kepentingan hegemoni dan indoktrinasi pemerintah terhadap masyarakat. Pengadaan buku pelajaran menjadi hak monopoli pemerintah bekerjasama dengan Balai Pustaka.
Pada era ini berbagai masalah penyimpangan mulai banyak terjadi, mulai dari praktek penyuapan penerbit kepada pemerintah, pembelian kertas yang diarahkan kepada perusahaan tertentu hingga maraknya jual beli buku di sekolah. Belakangan ketika informasi tentang berbagai penyimpangan semakin menjadi konsumsi publik, pemerintah mengeluarkan Peraturan Menteri No 11 Tahun 2005 tentang larangan praktek jual beli buku di sekolah sekaligus menetapkan buku berstandarisasi nasional yang dapat berlaku selama lima tahun. Untuk mendukung regulasi tersebut, pemerintah mengeluarkan kebijakan BOS khusus buku dengan pendanaan sebesar 900 miliar. Dana ini akan digunakan untuk pembelian buku yang dibagikan secara gratis kepada sekitar 40 juta siswa dengan asumsi nilai buku sebesar Rp. 22.000,00/ siswa. Sayangnya, ketika kebijakan ini belum maksimal dilaksanakan, terjadi krisis minyak yang menyebabkan harga minyak dunia melambung tinggi. Pemerintah yang panik akibat terkena dampak krisis kemudian melakukan pengetatan APBN, semua anggaran departemen termasuk Depdiknas dikurangi. Kondisi inilah yang diperkirakan menjadi asal muasal lahirnya kebijakan buku elektronik, indikasinya jelas subsidi BOS buku berkurang dari Rp. 22.000,-/siswa menjadi Rp. 11.000,/ siswa. Seperti diketahui, Pemerintah baru saja mengeluarkan Permendiknas No.2 Tahun 2008 tentang buku. Melalui permendiknas ini, Depdiknas akan membeli hak cipta dari penulis dan distribusinya berdasarkan ketentuan yang ditetapkan oleh Depdiknas. Setidaknya Depdiknas mengalokasikan dana sebesar 20 miliar untuk pembelian hak cipta sebanyak 295 jilid buku. 

Besaran dan Satuan

BESARAN DAN SATUAN

q  Besaran adalah segala sesuatu yang dapat diukur dan dinyatakan dengan angka. Besaran dikelompokkan menjadi dua, yaitu:besaran pokok dan besaran turunan.
q  Besaran Pokok adalah Besaran yang satuannya telah ditetapkan terlebih dahulu dan tidak diturunkan dari besaran lain.
q  Besaran Turunan adalah besaran yang satuannya diturunkan dari satuan besaran pokok.
Contoh: kecepatan, percepatan, massa jenis, berat jenis, gaya, dan lain-lain.
q  7 Besaran pokok berdimensi
No.
Besaran pokok
Satuan
Lambang Satuan
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
Panjang
Massa
Waktu
Suhu
Kuat Arus
Jumlah Zat
Intensitas Cahaya
meter
kilo gram
detik
Kelvin Ampere
mol
candela
m
kg
s
K
A
mol
Cd
Cara menghafal : PaMaWa SuKu JumInten
q  Syarat-syarat satuan standar yang baik:
1.      Tetap, tidak mengalami perubahan dalam keadaan apapun
2.      Dapat digunakan secara internasional
3.      Mudah ditiru
q  Satu meter adalah jarak yang ditempuh cahaya dalam ruang hampa selama selang waktu s.
q  Standar satuan untuk massa adalah kilogram (kg)
Satu kilogram adalah massa sebuah silinder platina iridium yang aslinya disimpan di Sevres (Perancis). Massa 1 kg standar sama dengan massa dari satu liter air murni pada suhu 40C.
q  Satu sekon adalah selang waktu yang diperlukan oleh atom cesium-133 untuk melakukan getaran sebanyak 9.192.631.770 kali.
q  1 menit  = 60 sekon        
1 jam = 60 menit = 3600 sekon      
1 hari = 24 jam = 86400 ekon
q  Satu ampere adalah jumlah muatan listrik 1 coulomb yang melewati suatu penampang dalam periode satu sekon.
q  Satu candela didefinisikan sebagai benda hitam seluas 1 m2 pada suhu 1.773 0C memancarkan cahaya tegak lurus dengan kuat cahaya sebesar 600.000 candela.
q  Satu mol zat ditetapkan sebagai zat yang sama banyaknya dengan 6,025 x 1023 buah partikel
q  Tabel satuan panjang:                                     
No
Nama awalan
Simbol
Faktor
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
Eksa
Peta
Tera
Giga
Mega
Kilo
desi
centi
mili
mikro
nano
piko
femto
atto
E
P
T
G
M
k
d
c
m
m
n
p
f
a
1018
1015
1012
109
106
103
10-1
10-2
10-3
10-6
10-9
10-12
10-15
10-18
q  Mengukur suatu besaran adalah membandingkan besaran itu dengan suatu benda satuan.

Empat Tahapan Belajar

Kita akan menghilangkan segala penghalang proses belajar anak dan bagaimana kita meningkatkan konsep diri positif anak dengan memanfaatkan kata-kata yang menjadikan anak lebih dimanusiakan dan harga dirinya semakin diangkat.

Langkah awal yang harus kita pahami hilangkan kata JANGAN, TIDAK atau DILARANG. Kalau kita menggunakan kata-kata ini ada satu kesan negatif yang dirasakan anak. Berlatihlah untuk terus menghilangkan ke tiga kata tersebut. Jika saat kita mau mengucapkan suatu kata yang mengandung kata JANGAN, TIDAK atau DILARANG, ucapkan dalam hati “JADI APA YANG SAYA INGINKAN”. Misalkan “Jangan menambahkan puluhan dengan satuan” JADI APA YANG SAYA INGINKAN “Perhatikan kamu harus menambahkan puluhan dengan puluhan dan satuan dengan satuan”. Dengan merubah cara kita berkomunikasi kita telah merubah pola berfikir dari kerangka masalah menjadi berfikir dengan kerangka solusi. Banyak anak atau bahkan guru yang melihat kesulitan meningkatkan motivasi belajar dari sudut pandang kerangka masalah. Untuk dapat berfikir dari kerangka solusi kita harus tahu terlebih dahulu empat elemen penting dalam pembelajaran.

1. Inkompetensi tanpa sadar (Tidak menyadari ketidakmampuannya). Egi yang baru berumur 3 tahun dengan cekatan menuntun sepeda kecil dan langsung naik ke atas sadel. Walaupun ia sudah familiar dengan sepeda tersebut saat itu juga ia terjatuh bersama sepedanya. Egi tidak menyadari ketidakmampuannya untuk menaiki sepeda karena memang dia belum terampil dan belum pernah berlatih naik sepeda roda dua.

2. Inkompetensi sadar (Menyadari ketidak mampuannya). Setelah terjatuh dari sepeda Egi masih berusaha untuk menaikinya lagi dan mengulang kegagalan yang sama. Baru setelah dua kali gagal dia meninggalkan sepedanya dan berganti mainan yang lain. Egi menyadari ketidak mampuannya naik sepeda.

3. Kompetensi sadar (Menyadari kemampuannya). Setelah beranjak besar Egi kembali berlatih naik sepeda dengan dilatih oleh sang mama tercinta. Dalam kurun waktu dua hari ia telah mampu menguasai sepedanya. Namun dia masih agak kesulitan untuk mengayuh pedal dan menjaga keseimbangan. Sekarang Egi menyadari bahwa ia mampu naik sepeda.

4. Kompetensi tanpa sadar (Tidak menyadari kemampuannya) dilakukan Egi saat dia sudah terbiasa menaiki sepedanya tanpa harus memikirkan lagi mengayuh pedal dan menjaga keseimbangan. Semuanya itu ia lakukan dengan otomatis.

Setiap orang yang belajar mengalami empat tahapan di atas demikian juga anak-anak belajar matematika. Apabila dalam mengerjakan soal matematika anak sudah dengan otomatis menyelesaikannya berarti dia sudah mencapai tingkatan tertinggi proses belajar. Empat tahap belajar akan berulang lagi saat menjumpai soal yang sama sekali baru dijumpai. 

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Sweet Tomatoes Printable Coupons